Abses Perianal?

Abses adalah kumpulan nanah. Nanah tersebut berisi gabungan dari jaringan yang mati, sel darah merah, dan bakteri, dan terjadi di sekitar anus, sehingga disebut abses perianal.

Gejala

Gejala abses perianal umumnya berupa:

  1. Benjolan atau pembengkakan yang nyeri di dekat atau sekitar anus. Pembengkakannya akan tampak merah dan hangat saat diraba.
  2. Nyeri pada abses perianal biasanya terjadi terus-menerus.
  3. Mengeluarkan nanah dan darah jika abses pecah.

Selain benjolan atau pembengkakan, abses perianal juga dapat menimbulkan beberapa gejala, seperti:

Penyebab

“Sebagian besar abses anus disebabkan oleh sumbatan dan infeksi pada kelenjar-kelenjar di anus. Selain itu, beberapa penyebab lain dari abses perianal adalah penyakit peradangan usus (misalnya, penyakit crohn), injury, ataupun keganasan.” ujar dr. Hengky, dari Vena Wasir Center, Jakarta.

Faktor Risiko Abses Perianal

Faktor risiko untuk terjadinya abses perianal, antara lain:

  1. Laki-laki.
  2. Usia lebih dari 40 tahun.
  3. Merokok.
  4. Memiliki riwayat penyakit peradangan usus, HIV, trauma, ataupun keganasan.

Diagnosis

Pemeriksaan yang dapat diandalkan untuk menegakkan investigation abses perianal adalah pemeriksaan fisik. Dokter akan memeriksa benjolan atau pembengkakkan dengan pemeriksaan perabaan pada daerah anus dan sekitarnya untuk memastikan adanya massa yang dicurigai berisi nanah, serta melihat warna dan keterlibatan jaringan sekitarnya.

Pada kasus di mana tanda-tanda masa berisi nanah tidak ditemukan, tetapi terdapat keluhan nyeri pada daerah sekitar anus, maka pemeriksaan pencitraan dapat dilakukan, seperti Computed Tomography (CT) Scan, Magnetic Resonance Imaging (MRI), ataupun ultrasonografi (USG) anorektal. Selain itu, pemeriksaan laboratorium kemungkinan akan menunjukkan jumlah sel darah putih yang meningkat sebagai tanda adanya peradangan.

Pengobatan

Adanya abses perianal menunjukkan indikasi yang kuat untuk dilakukan insisi dan drainase. Dokter akan membuka benjolan atau pembengkakkan dengan alat-alat yang steril di klinik atau rumah sakit dengan menggunakan obat bius lokal dan mengeluarkan nanah hingga bersih. Pada beberapa kasus, abses perianal yang luas perlu dilakukan diterapi di ruang operasi dengan bius umum. Setelah itu, kemungkinan antibiotik akan diberikan dan harus digunakan sesuai dengan aturan dan petunjuk dokter.

Efek samping dari pembedahan biasanya terjadi jika kurang menjaga higienis atau kebersihan dalam penyembuhan luka setelah operasi. Kemungkinan yang dapat terjadi, antara lain infeksi, perdarahan, ataupun jahitan yang lepas. Efek samping untuk terapi antibiotik dapat berbeda-beda tergantung jenis antibiotik yang diberikan.

Komplikasi Abses Perianal

Komplikasi yang paling sering terjadi pada kasus abses perianal adalah terjadinya fistula perirektal. Fistula perirektal adalah terbentuknya semacam saluran antara kulit dan anus. Jika terjadi fistula perianal, bakteri di saluran pencernaan (usus) dapat terperangkap di dalam saluran ini dan menyebabkan infeksi berulang. Fistula perirektal dapat diterapi dengan metode pembedahan yang disebut fistulektomi untuk menghilangkan keberadaan saluran/fistula tersebut.

Pencegahan Abses Perianal

Hingga saat ini belum ada metode pencegahan khusus agar terhindar dari penyakit abses perianal. Namun, beberapa hal berikut dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya abses perianal:

  1. Menghindari penyakit infeksi menular seksual terutama yang melibatkan anus.
  2. Jika mengalami infeksi, segera periksakan ke dokter untuk dilakukan terapi yang sesuai.
  3. Menjaga kebersihan wilayah anus.

Jl. Raya Jatiasih No. 7 Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat 17423

Informasi dan Pendaftaran

Informasi dan Pendaftaran

021-8242-0425

marketingvenawasir@gmail.com

Book Online

Appointment Now